Kamis, 20 Juli 2017

PERILAKU DALAM ARSITEKTUR PROSES DAN POLA PERILAKU MANUSIA

KATA PENGANTAR


Puji syukur kehadirat ALLAH SWT, yang telah senantiasa melimpahkan Rahmat dan Hidayah- NYA sehingga kita semua dalam keadaan sehat walafiat dalam menjalankan aktifitas sehari-hari. Penyusun juga panjatkan kehadiran ALLAH SWT, karena hanya dengan kerido’an-NYA Makalah dengan judul “POLIVINIL CLORIDA” ini dapat terselesaikan.

Penulis menyadari betul sepenuhnya bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak, makalah ini tidak akan terwujud dan masih jauh dari sempurna, oleh karena itu dengan segala kerendahan hati penulis berharap saran dan kritik demi perbaikan-perbaikan lebih lanjut.

Akhirnya penulis berharap, semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi yang membutuhkan.


Semarang,27 September 2015


Arsitektur





















DAFTAR ISI

HALAMAN COVER…………………………………………………………………………i
KATA  PENGANTAR………….……………………………………………………………ii
DAFTAR ISI……………………………..………………………………………….……….iii
PENDAHULUAN…………………………………………………………………………….1
A.     PROSES DAN POLA PRILAKU MANUSIA………………………………………………..1
B.     DEFINISI BEHAVIOR SETTING…………………………………………………..………..2
C.     POLA PERILAKU………………………………………………………………………….…3
D.     BATAS BEHAVIOR SETTING………………………………………………………………4
E.      SISTEM AKTIVITAS……………………………………………………………………...….5
F.      AKTIVITAS DAN PERILAKU……………………………………………………….………7
G.     BEHAVIOR SETTING DALAM DESAIN……………………………….…………………..7
H.     TEORI-TEORI ARSITEKTUR PERILAKU……………………………….…………………9
I.        PRINSIP-PRINSIP PADA TEMA ARSITEKTUR PERILAKU………………….………....14
J.       MEMENUHI NILAI ESTETIKA, KOMPOSISI, DAN ESTETIKA BENTUK…………….15
















PENDAHULUAN
A.    Proses dan pola perilaku manusia
Manusia tidak dapat lepas dari lingkungannya. Setiap aspek dalam kehidupan manusia selalu berada dalam lingkungan tertentu. Hal ini merupakan salah satu indikasi bahwa manusia memang tak bisa lepas dari lingkungan.
Pola perilaku manusia sedikit banyak juga ditentukan oleh keadaan lingkungan sekitarnya. Lingkungan memiliki peran penting dalam membentuk karakter manusia. Lingkungan juga dapat menjadi sarana bagi manusia dalam memenuhi kebutuhannya. Tidur, bekerja, rekreasi, ibadah dan berbagai aktivitas lainnya membutuhkan ruang atau lingkungan. Dalam pemenuhan kebutuhan tersebut, terlihat adanya pola perilaku penggunanya.  Barker seorang tokoh psikologi ekologi yang mengembangkan penelitian perilaku individual di lapangan,bukan di laboratorium seperti pada umumnya perilaku psikologi tradisional, menelusuri bahwa pola perilaku manusia berkaitan dengan tatanan lingkungan fisiknya, dan melahirkan konsep ‘tatar perilaku’ (behavior setting).
Behavior setting terjadi pada pertemuan antara individu dan lingkungannya. Seorang arsitek melalui pengamatan behavior setting  dalam perencanaan proyek tertentu dapat membantu untuk mengenal system social dari dalam setting, dalam arti melihat pola-pola perilaku sistematis yang ditunjukkan oleh penghuni lingkungan tertentu. Dengan demikian, hasil pengamatan ini dapat memperluas wawasan pengetahuan arsitek tentang manusia dari perspektif yang berbeda bukan dari teori semata.
B.     Definisi Behavior Setting
Roger Barker dan Herbert Wright memakai istilah behavior setting untuk menjelaskan tentang kombinasi perilaku dan milieu  tertentu, Salah satu contoh, ketika seorang dosen menyiapkan suatu perkuliahan, atau seorang direktur menyusun agenda rapat tim direksinya, maka setiap orang bertindak untuk memastikan akan keberadaan suatu behavior setting. Pada setiap kasus tersebut, direncanakan adanya serangkaian aktivitas bersama orang lain ketika terdapat sejumlah pola perilaku tertentu yang dikombinasikan dengan objek tertentu dalam batasan ruang dan waktu tertentu. Behavior setting didefinisikan sebagai suatu kombinasi yang stabil antara aktivitas, tempat, dan kriteria sebagai berikut:
1.    Terdapat suatu aktivitas yang berulang, berupa suatu pola perilaku (standing pattern of behavior). Dapat terdiri satu atau lebih pola perilaku ekstraindividual.
2.    Dengan tata lingkungan tertentu (circumjacent milieu), milieu ini berkaitan dengan pola perilaku
3.    Membentuk suatu hubungan yang sama antara keduanya (synomorphy).
4.    Dilakukan pada periode waktu tertentu
Istilah ekstraindividual  menunjukkan fakta operasional bahwa sebuah setting tidak bergantung hanya pada seorang manusia atau objek. Dalam setting  bisa jadi dibentuk oleh pengganti karena dalam hal ini tidak ada objek atau lokasi yang sedemikian pentingnya sehingga tidak tergantikan. Yang penting adalah konfigurasi secara keseluruhan, bagian per bagian.
Istilah circumjacent milieu  merujuk pada batas fisik dan temporal dari sebuah setting. Setiap behavior setting berbeda dari setting lainnya menurut ruang dan waktu. Sementara itu, istilah synomorphic berarti ‘struktur yang sama’ menunjukkan adanya hubungan antara milieu dan perilaku.
C.    Pola Perilaku
Suatu pola perilaku biasa terdiri dari  atas beberapa perilaku secara bersamaan, antara lain sebagai berikut:
1.    Perilaku emosional
2.    Perilaku untuk menyelesaikan masalah
3.    Aktivitas motorik
4.    Interaksi interpersonal
5.    Manipulasi objek


Untuk mengetahui sejauh mana interdependensi antara dua entitas yang masing-masing mempunyai atribut untuk menjadi behavior setting, dapat dilakukan pengujian yang ditinjau dari berbagai dimensi, meliputi:
a.    Aktivitas
b.    Penghuni
c.    Kepemimpinan
Dengan mengetahui posisi fungsional penghuni , dapat diketahui peran sosial yang ada dalam komunitas tersebut. Di banyak setting, posisi pemimpin dapat dipisahkan agar dapat dikenali kekuatan-kekuatan lain yang ada yang ikut mengambil bagian dalam setting  tersebut.
d.    Populasi
Sebuah setting  dapat mempunyai sedikit atau banyak partisipan. Komunitas dianggap lebih baik apabila memiliki banyak setting.
e.    Ruang
Ruang tempat terjadinya setting  tentu sangat beragam, bisa di ruang terbuka atau ruang tertutup
f.     Waktu
Kelangsungan sebuah setting  dapat terjadi secara rutin atau sewaktu-waktu saja. Misalnya, apel pagi tentara yang dilakukan setiap pagi atau sebuah perayaan upacara tujuh belas Agustus.
Durasi pada setting yang sama dapat berlangsung sesaat atau terus menerus sepanjang tahun, misalnya pertokoan.
g.    Objek
h.    Mekanisme perilaku
Barker menguraikan sebelas pola aksi dalam setting, yang dapat segera diamati atau dicatat, ada ataupun tidak ada dalam setting tersebut, yaitu berkaitan dengan Estetika, Bisnis, Pendidikan, Pemerintahan, Nutrisi, Aksi social, Penampilan personal, Kesehatan masyarakat, Professional, Rekreasi ,Religious.
D.     Batas Behavior S setting
Batas suatu behavior setting  adalah dimana perilaku tersebut berhenti. Ada beberapa kemungkinan untuk pembatas ini. Batas yang ideal adalah batas yang jelas seperti sebuah
dinding massif. Dinding pembentuk batas yang jelas merupakan batas akhir suatu setting  dan batas awal setting lainnya. Apabila batas dari suatu behavior setting  tidak jelas maka masalah yang muncul adalah tidak jelasnya pemisahan aktivitas, terutama apabila sebagian aspek dalam pola perilaku harus dipisahkan dengan yang lainnya. Misalnya aktivitas didalam ruang kelas ketika  pemisahan visual antara beberapa aktivitas mungkin tidak perlu dilakukan , tapi pemisahan secara audial menjadi sangat diperlukan.
Kadang-kadang juga terjadi bentrokan antara nilai estetika arsitek dan kebutuhan demi kelangsungan sebuah aktivitas, antara ideology bagaimana seharusnya sesuatu ditata menurut arsitek perancangnya dan kenyataan perilaku manusia penggunanya. Misalnya, dalam perancangan ruang kerja. Idealisme membuat ruang kerja terbuka dengan tatanan ala lansekap, akan berhadapan dengan kebutuhan dan preferensi penggunanya, terutama dalam berinteraksi dengan sesama. Kerap kali ruang kerja itu dirancang lebih fleksibel daripada fleksibilitas perilaku manusianya. Sebaliknya terlalu banyaknya dinding pembatas juga akan menimbulkan masalah bagi penggunanya karena sukarnya pengguna berinteraksi dengan sesama.
Dari uraian mengenai behavior setting  tersebut jelas bahwa beberapa objek berfungsi membentuk batas spasial dan objek lain berfungsi mendukung pola aktivitas yang terjadi didalamnya.
E.     Sistem Aktivitas
Sistem aktivitas dalam sebuah lingkungan terbentuk dari rangkaian sejumlah behavior setting.Sistem aktivitas seseorang menggambarkan motivasi, sikap, dan pengetahuannya tentang dunia dengan batasan penghasila, kompetensi, dan nilai-nilai budaya yang bersangkutan (Chapin dan Brail,1969;Porteus,1977).
Dalam pengamatan behavior setting,dapat dilakukan analisis melalui beberapa cara antara lain sebagai berikut:
1.    Menggunakan time budget                                                   
2.    Melakukan sensus
Hal yang dapat mewakili data pengamatan behavior setting meliputi:
(i)  Manusia (siapa yang dating,kemana dan mengapa, siapa yang mengendalikan setting?)
(ii)  Karakteristik ukuran (berapa banyak orang per jam ada di dalam setting, bagaimana ukuran setting secara fisik, berapa sering dan berapa lama setting itu ada?)
(iii)  Objek (ada berapa banyak objek, dan apa jenis objek yang dipakai dalam setting,kemungkinan apa saja yang ada bagi stimulasi, respon, dan adaptasi?)

3.    Studi Asal dan Tujuan
Studi asal dan tujuan adalah suatu studi yang mengamati, mengidentifikasi awal dan akhir pola-pola pergerakan. Studi semacam ini menggambarkan pola perilaku yang sesungguhnya terjadi, bukan hanya seperti yang dibayangkan oleh arsitek, melainkan yang membentuk kehidupan seseorang atau sekelompok orang.Studi asal dan tujuan merupakan pendekatan makro yang dapat diterapkan pada skala urban atau skala bangunan.
Rancangan yang dibuat semata-mata berdasarkan imajinasi arsitek yang sering kali menjadi rancangan yang ideal bagi arsitek, tetapi mungkin miskin akanaffordances dan peluang-peluang bagi seorang pengguna untuk memenuhi kebutuhannya.
Ada hubungan timbale balik antara individu dan system perilaku yakni karena manusia adalah bagian dari behavior setting yang memberi kontribusi pada behavior setting. Akan tetapi ia juga didukung oleh behavior setting dalam berperilaku.
F.      Aktivitas dan perilaku
Behavior setting sebagai suatu kesatuan cenderung lebih memaksa dibandingkan dengan pola perilaku atau milieu itu sendiri. Disini, Barker, sebagai pencetus konsep behavior setting mengemukakan gagasan yang kontradiktif. Disuatu sisi, ia mengatakan bahwa lingkungan non social, lingkungan ekologi, bukanlah demand behavior. Akan tetapi, disisi lain, ia menerima konsep psikologi Gestalt mengenai persepsi physiognomic, yaitu milieu  mempunyai demand quality. Ada tuntutan tertentu seperti ruang terbuka yang merancang seorang anak untuk berlarian. Hal ini dijelaskan dalam konsep Kurt Lewin mengenai kualitas yang mengundang (invitational quality)
G.    Behavior setting  dalam desain
DAlam berbagai argumentasi dikatakan bahwa desain behavior setting  yang baik adalah yang sesuai atau pas dengan struktur perilaku penggunanya. Desain arsitektur disebut suatu proses argumentatif. Argumentasi dilontarkan dalam membuat desain yang dapat diadaptasikan, fleksibel, atau terbuka (open ended). Edward Hall mengidentifikasi tiga tipe dasar pola ruang sebagai berikut:

1.    Ruang Berbatas Tetap (fixed feature space)
Ruang berbatas tetap dilingkupi oleh pembatas yang relative tetap dan tidak mudah digeser, seperti dinding massif, jendela, pintu, lantai.
2.    Ruang Berbatas semitetap (semifixed feature space)
Ruang yang pembatasnya bisa berpindah. PAda rumah-rumah tradisional Jepang misalnya, dinding dapat digeser untuk mendapatkan setting  yang berbeda sesuai dengan kebutuhan dan pada waktu yang berbeda. Ruang-ruang pameran yang dibatasi oleh partisi yang dapat dipindahkan ketika dibutuhkan setting yang berbeda.
3.    Ruang Informal
Ruang yang terbentuk hanya untuk waktu singkat., seperti ruang yang terbentuk ketika dua atau lebih orang berkumpul. Ruang ini tidak tetap dan terjadi diluar kesadaran orang yang bersangkutan.
H. Teori-teori Tema Arsitektur perilaku
a.    Menurut Donna P. Duerk
dalam bukunya yang berjudul Architectural Programming dijelaskan bahwa :
“…that people and their behavior are part of a whole system that includes place and environment, sunch that behavior and environment cannot be empirically separated. That is to say, human behavior always happen in a place and they cannot be fully evaluated without considering the environmental influence.”
(…bahwa manusia dan perilakunya adalah bagian dari system yang menempati tempat dan lingkungan tidak dapat dipisahkan secara empiris. Karena itu perilaku manusia selalu terjadi pada suatu tempat dan dapat dievaluasi secara keseluruhan tanpa pertimbangan factor-faktor lingkungan)
1.    Lingkungan yang mempengaruhi perilaku manusia.
Orang cenderung menduduki suatu tempat yang biasanya diduduki meskipun tempat tersebut bukan tempat duduk. Misalnya: susunan anak tangga didepan rumah, bagasi mobil yang besar, pagar yang rendah dan sebagainya.
2.    Perilaku manusia yang mempengaruhi lingkungan
Pada saat orang cenderung memilih jalan pintas yang dianggapnya terdekat dari pada melewati pedestrian yang memutar. Sehinga orang tersebut tanpa sadar telah membuat jalur sendiri meski telah disediakan pedestrian.
b.    Menurut Y.B Mangun Wijaya dalam buku Wastu Citra.
Arsitektur berwawasan perilaku adalah Arsitektur yang manusiawi, yang mampu memahami dan mewadahi perilaku-perilaku manusia yang ditangkap dari berbagai macam perilaku, baik itu perilaku pencipta, pemakai, pengamat juga perilaku alam sekitarnya. Disebutkan pila bahwa Arsitektur adalah penciptaan suasana, perkawinan guna dan citra. Guna merujuk pada manfaat yang ditimbulkan dari hasil rancangan. Manfaat tersebut diperoleh dari pengaturan fisik bangunan yang sesuai dengan fungsinya. Namun begitu guna tidak hanya berarti manfaat saja, tetapi juga mengahsilkan suatu daya yang menyebabkan kualitas hidup kita semakin meningkat. Cita merujuk pada image yang ditampilkan oleh suatu karya Arsitektur. Citra lebih berkesan spiritual karena hanya dapat dirasakan oleh jiwa kita. Citra adalah lambing yang membahasakan segala yang manusiawi, indah da agung dari yang menciptakan (Mangunwijaya, 1992).
Dari pernyataan di atas dapat dikatakan baha mencapa guna dan citra yang sesuai tidak lepas dari berbagai perilaku yang berpengaruh dalam sebuah karya, baik itu perilaku pencipta, perilaku pemakai, perilaku pengamat juga menyangkut perilaku alam dan sekitarnya. Pembahasan perilaku dalam buku wastu citra dilakukan satu persatu menurut beragamnya pengertian Arsitektur, sebagai berikut :

1.    Perilaku manusia didasari oleh pengaruh sosial budaya yang juga mempengaruhi terjadinya proses Arsitektur.
2.    Perilaku manusia yang dipengaruhi oleh kekuatan religi dari pengaruh nilai-nilai kosmologi.
3.    Perilaku alam dan lingkungan mendasari perilaku manusia dalam berArsitektur.
4.    Dalam berArsitektur terdapat keinginan untuk menciptakan perilaku yang lebih baik.



c.    Menurut Garry T. More dalam buku Introduction to Architecture.
Istilah perilaku diartikan sebagai suatu fungsi dari tuntutan-tuntutan organism dalam dan lingkungan sosio-fisik luar. Penkajian perilaku menurut Garry T. More diakitkan denga lingkungan sekitar yang lebih dikenal sebagai pengakjian lingkungan-perilaku. Adapun
pengkajian lingkungan_perilaku seperti yang dimaksudkan oleh Garry T. More terdiri atas definisi-defenisi sebagai berikut :
1.    Meliputi penyelidikan sistematis tentang hubungan-hubungan antara lingkungan dan perilaku manusia dan penerapannya dalam proses perancangan.
2.    Pengakjian lingkungan-perilaku dalam Arsitektur mencakup lebih banyak dari pada sekedar fungsi.
3.    Meliputi unsure-unsur keindahan estetika, diaman fungsi bertalian denga perilaku dan kebutuhan oang, estetika bertalian dengan pilihan dan pengalaman. Jadi estetika formal dilengkapi dengan estetika hasil pengalaman  yang bersandar pada si pemakai.
4.    Jangkauan factor perilaku lebih mendalam, pada psikologi si pemakai bangunan , kebutuhan interaksi kemasyarakatan, perbedaan-perbedaan sub budaya dalam gaya hidup dan makna serta simbolisme banguan.
5.    Pengkajian lingkungan-lingkungan juga meluas ke teknologi, agar isyarat-isyarat Arsitektur dapat memberikan penampilan kemantapan atau perlindungan.
d.    Menurut Victor Papanek
Bahwa dalam telaah-telaah lingkungan dalma arsitektur, harus dipahami dua kerangka konsep yang satu menjelaskan jajaran informasi lingkungan perilaku-perilaku yang tersedia, dan yang lain memperhatikan diaman proses perancangan informasi lingkuangan perilaku paling mempengaruhi pengambilan keputusan Arsitektur
Faktor –faktor dalam prinsip Arsitektur perilaku.
Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam prinsip-prinsip perilaku pengguna bangunan (snyder, james C, 1989) antara lain :
1.    Factor manusia
a.    Kebutuhan dasar.
Manusai mempunyai kebutuhan-kebutuhan dasar antara lain :
1.    Physicological need
Merupakan kebutuhan dasar manusia yang bersifat fisik. Misalnya makan, minum, berpakaian dan lain-lain yang berhubungan denga factor fisik.
2.    Safety need.
Kebutuhan akan rasa aman terhadap diri dan lingkungan baik secara fisik maupun psikis, secara fisik seperti rasa aman dari panas, hujan dan secara psikis seperti aman dari rasa malu, aman dari rasa takut dan sebagainya.
3.    Affilitation need.
Kebutuhan untuk bersosialisasi, berinteraksi dan berhubungan degan orang lain. Affilitation need sebagai alat atau sarana untuk mengekspresikan diri dengan cara berinteraksi dengan sesamanya.
4.    Cognitive/Aestetic need.
Kebuthan untuk berkreasi, berkembang, berfikir dan menambah pengetahuan dalam menentukan keindahan yang dapat membentuk pola prilaku manusia.

b.    Usia
Manusia sebagai pengguna pada bangunan memiliki tahapan usia yang akan sangat berpengaruh terhadap rancangan. Manusia dibedakan atas :
1.    Balita
Kelompok ini merupakan kelompok usia yang belum mampu mengerti kondisi keberadaan diri sendiri, merek masih mengenal perilaku-perilaku sosial yang ada disekitarnya.
2.    Anak-anak
Kelompok usia ini memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi, dan mereka cenderung kreatif.
3.    Remaja
Kelompok usia ini mereka sudah memiliki kepribadian yang stabil dan mantap.
4.    Dewasa
Untuk usia ini mereka sudah memiliki kepribadian yang stabil dan mantap.
5.    Manula
Pada kelompok ini kemampuan fisiknya telah banyak berkurang.
c.    Jenis kelamin
Perbedaan jenis kelamin akan mempengaruhi perilak manusia dan mempengaruhi dalam proses perancangan atau desain. Misalnya pada kebutuhan ruang antara pria dan wanita pasti akan memiliki kebutuhan ruang yang berbeda-beda.
d.    Kelompok pengguna
Perbedaan kelompok pengguna dapat pertimbangan dalam perancangan atau desain, karena tiap bangunan memiliki fungsi dan pola yang berbeda karena factor pengguna tersebut. Misalnya gedung futsal denga gedung tennis tidak dapat disamakan karena kelompok penggunanya yang berbeda.
e.    Kemampuan fisik
Tiap individu memiliki kemampuan fisik yang berbeda-beda, di pengaruhi pula oleh usia dan jenis kelamin. Umumnya kemampuan fisik berkaitan degan kondisi dan kesehatan tubuh manusia. Orang yang memiliki keterbatasan fisik atau cacat tubuh seperti berkursi roda, buta, tuli, dan cacat tubuh lainnya harus menjadi bahan pertimbangan dalam desain atau perancangan.


f.     Antropometrik
Adalah proporsi dan dimensi tubuh manusia dan karakteristik-karakteristik fisiologis lainnya dan kesanggupan-kesanggupan relatif terhadap kegiatan manusia yang berbeda-beda dan mikro lingkunga. Misalnya, tinggi meja dan lemari yang disesuaikan denga pengguna.
I.       Prinsip-prinsip pada tema arsitektur Perilaku
Prinsip-prinsip tema arsitektur perilkau ynag harus diperhatikan dalam penerapan tema arsitektur perilaku menurut Carol Simon Weisten dan Thomas G David antara lain :
1.    Mampu berkomunikasi dengan manusia dan lingkungan :
Rancangan hendaknya dapat dipahami oleh pemakainya melalui penginderaan ataupun pengimajinasian pengguna bangunan. Bentuk yang disajikan oleh perancang dapat dimengerti sepenuhnya oleh pengguna bangunan, dan pada umunya bentuk adalah yang paling banyak digunakan sebagai media komunikasi karena bentuk yang paling mudah ditangkap dan dimengerti oleh manusia. Dari bangunan yang diamati oleh manusi syarat-syarat yang harus dipenuhi adalah :
a.    Pencerminan fungsi bangunan
Symbol-simbol yang menggunakan tentang rupa banguna yang nantinya akan dibandingkan dengan pengalaman yang sudah ada, dan disimpan kembali sebagai pengalaman baru.
b.    Menunjukan skala da proporsi yang tepat serta dapat dinikmati.
c.    Menunjukkan bahan dan struktur yang akan digunakan dalam bangunan.
2.    Mewadahi aktivitas penghuninya dengan nyaman dan menyenangkan.
a.    Nyaman berarti nyaman secara fisik dan psikis. Nyaman secara fisik berarti kenyamanan yang berpengaruh   pada keadaan tubuh manusia secara langsung seperti kenyamanan termal. Nyaman secara psikis pada dasarnya sulit dicapai karena masing-masing individu memiliki standart yang berbeda-beda untuk menyatakan kenyamanan secara psikis.


b.    Menyenangkan secara fisik bias timbul dengan adanya pengolahan-pengolahan pada bentuk atau ruangan yang ada disekitar kita. Menyengkan secara fisiologis bias timbul denga adanya kenyamanan termal yang diciptakan lingkungan sekitar terhadap manusia. Menyenangkan secara psikologis bias timbul denga adanya ruang terbuka yang merupakan tuntutan atau keinginan manusia untuk bias bersosialisasi. Menyenangkan secara kultural bias timbul denga adanya penciptaan karya arsitektur dengan gaya yang sudah dikenal oleh masyarakat yang berada di tempat itu.
J.    Memenuhi nilai estetika, komposisi dan estetika bentuk.
Keindahan dalam Arsitektur harus memiliki beberapa unsure, antara lain ;
1.    Keterpaduan (unity)
Yang berarti tersusunnya beberapa unsure menjadi satu kesatuan yang utuh dan serasi.
2.    Keseimbangan
Yaitu suatu nilai yang ada pada setiap objek u=yang daya tarik visualnya haruslah seimbang.
3.    Proporsi
Merupakan hubungan tertentu antara ukuran bagian terkecil dengan ukuran keseluruhan.
4.    Skala
Kesan yang ditimbulkan bangunan itu mengenai ukuran besarnya. Skala biasanya diperoleh dengan besarnya bangunan dibandingkan dengan unsure-unsir manusiawi yang aa disekitarnya.
5.    Irama
Yaitu pengulangan unsur-unsur dalam  perancangan bangunan. Seperti pengulangan garis-garis, lengkung, bentuk masif, perbedaan warna yang akan sangat mempengaruhi kesan yang ditimbulkan dari perilaku pengguna bangunan.



ARSITEKTUR MODEREN


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat ALLAH SWT, yang telah senantiasa melimpahkan Rahmat dan Hidayah- NYA sehingga kita semua dalam keadaan sehat walafiat dalam menjalankan aktifitas sehari-hari. Penyusun juga panjatkan kehadiran ALLAH SWT, karena hanya dengan kerido’an-NYA Makalah dengan judul “ALIRAN ARSITEKTUR MODERN” ini dapat terselesaikan.

Penulis menyadari betul sepenuhnya bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak, makalah ini tidak akan terwujud dan masih jauh dari sempurna, oleh karena itu dengan segala kerendahan hati penulis berharap saran dan kritik demi perbaikan-perbaikan lebih lanjut.

Akhirnya penulis berharap, semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi yang membutuhkan.


Semarang,10 january 2017


Arsitektur











Daftar isi
1.      ALIRAN ARSITEKTUR BRUTALISME………………………..
2.      ALIRAN ARSITEKTUR FUTURISTIK………………………………...
3.      ALIRAN ARSITEKTUR ART NOUVEAU……………………………..




1.     ALIRAN ARSITEKTUR BRUTALISME
Brutalisme adalah gaya arsitektur yang melahirkan pembaharu gerakan arsitek dan berkembang pada tahun 1950 sampai tahun 1970. Awal gaya sebagian besar diilhami oleh Arsitek Swiss, Le Corbusier ( khususnya Unit d'Habitation) dan Ludwig Mies van der Rohe. Istilah brutalisme ini dimulai dari bahasa Prancis Béton brut, atau " beton mentah". Bangunan brutalist pada umumnya dibentuk dengan membentur blockish, geometris, dan bentuk berulang, dan sering juga mengulang bentuk tapi tanpa adanya ornamen. Tidak semua bangunan brutalist dibentuk dari beton. Sebagai gantinya, bangunan dapat mencapai Mutu brutalist melalui suatu bahan yang keras dengan penampilan bagunan dan material strukturnya terbuat dari beton. Rumah pribadi Alison dan Peter Smithson'S dibangun dari batu bata, dan Richard & Renzo Piano Center Pompidou sering dihormati sebagai arsitektur brutalist dengan Bahan dan struktur bangunannya meliputi batu bata, kaca, baja, batu kasar.
Brutalism sebagai gaya arsitektur juga dihubungkan dengan suatu ideologi yang berupa kayalan sosial yang cenderung untuk didukung oleh para perancangnya, terutama Alison dan Peter Smithson. Kegagalan dalam merencanakan suatu desain merupakan hal hal positif bagi para arsitektur Brutalist.

Brutalism memperoleh daya gerak besar di Inggris sepanjang abad pertengahan 20, ketika keadaan ekonomis tertekan ( dan kerusakan WWII) masyarakat mencari konstruksi murah. Haruslah dicatat, meskipun demikian, banyak arsitek memilih gaya brutalist meskipun mereka mempunyai anggaran yang besar dalam membangun. Dan gaya ini terjadi setelah perang dunia ke II di jerman

Desain brutalist pada awalnya mendapatkan kritik sebagai gaya yang merusak pemandangan dalam majalah home office edisi 50 gaya Quenn Anne dikatakan “seperti barang rongsokan”. Sebab gaya ini snagat identik dengan beton. Bagaimanapun, gaya brutalist pada Menara Trelick membuktikan bahwa gaya brutalist sangat populer di antara para arsitek dan masyarakat. Pada waktunya, banyak struktur brutalisme menjadi lebih dihargai oleh masyarakat karena keunikan mereka dan penampilan yang menyolok.

Di tahun terakhir, gaya bangunan brutalistme sudah mulai hilang dari ingatan masyarakat. Dan masyarakat mulai menuju ke gaya pembaharu yang baru lahir menggantikan gaya brutalisme sehingga banyak bangunan gaya brutalistme dirobohkan dan dibangun menjadi gaya yang baru lagi.




  1. Aliran Arsitektur Futuristik 
Arsitektur Futuristik atau futurisme dimulai pada awal abad ke 20 dengan bentuk bangunan yang ditandai oleh anti -historicism dan garis panjang mendatar, kecepatan, emosi dan urgensi yang artistik dan gaya ini dimulai pada Italia dan berlangsung pada tahun 1909 sampai 1944. Gaya ini dihidupkan oleh penyair itu Filippo Tommaso Marinetti, dan dia bekerja pada tokoh arsitektur terkemuka seperti arsitek Antonio Sant'Elia dan seniman Umberto Boccioni, Giacomo Balla, Fortunato Depero, Enrico Prampolini. pendukung bangunan futuristik menyarankan kecepatan, teori pengaruh energi dan ekpresi yang kuat, di dalam usahanya untuk membuat zaman arsitektur yang modern.

Setelah permulaannya, Futurism telah menjadi suatu kata [yang] lebih umum untuk mengangkat kecenderungan yang luas dalam disain modern yang sangat ingin menciptakan arsitektur dengan gaya masa depan ataupun sedikitnya gaya yang akan datang 10 tahun ke masa depan. Futurism modern sebagian besar mulai dengan gaya desain pada mobil ataupun kereta pada tahun 1950 di California. Futurism adalah bukanlah suatu gaya tetapi suatu pendekatan terbuka ke arsitektur, dan telah ditafsirkan kembali oleh generasi arsitek yang berbeda dari beberapa dekade, tetapi pada umumnya ditandai dengan membentuk ketajaman, bentuk dinamis, kontras kuat dan penggunaan material yang berguna.





3.     ALIRAN ARSITEKTUR ART NOUVEAU
Zaman ini merupakan pergerakan revolusioner dimana adanya pembatas yang tegas antara seni murni dan seni terpakai. Art Nouveau lebih menitik beratkan pada konsep pemahaman kehidupan modern dan metode produksi. Seniman diharuskan berkreasi mulai dari arsitektur hingga furniture design, sehingga seni merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Keindahan dan harmoni merupakan bagian dari kehidupan keseharian; seniman turut serta membuat kehidupan manusia lebih indah.
Art Nouveau sangat mempengaruhi perkembangan gaya De Stijl (Belanda; 1920an) dan Sekolah Bauhaus di Jerman (1920an-1930an).
Nama ‘Art Nouveau’ berasal dari nama sebuah toko di Paris, Maison de l’Art Nouveau, yang dimiliki oleh Siegfried Bing, yang memamerkan benda-benda yang memiliki ciri desain aliran art nouveau.
Sejarah Art Nouveau
Art Nouveau adalah aliran yang berasal untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup, sangat tidak mungkin untuk tinggal di dalam rumah bergaya art nouveau tanpa furniture yang bergaya art nouveau pula seperti peralatan makan, perhiasan, dan lainnya. Para desainer meemusatkan gaya art nouveau di beberapa kota di Eropa termasuk Brussels, Nancy, dan Paris. Di Brussels aliran ini secara aktif dikembangkan dengan bantuan Victor Horta and Henry Van de Velde.
Selain di toko Maison de l’Art Nouveau, gaya ini tidak terlalu berhasil di Paris. Dimana, pintu masuk dari Paris Métro didesain oleh Hector Guimard pada tahun 1899 dan 1900 terkenal sebagai salah satu arsitektur Art Nouveau di Paris.
Di Inggris, Art Nouveau merupakan pengembangan dari Arts and Crafts Movement. Pusat yang paling penting di Britain adalah Glasgow dengan kreasi dari Charles Rennie Mackintosh
Gaya Art Nouveau berkembang pertama kali terjadi di Belgia dan meyebar ke Eropa sampai Amerika dengan nama yang berbeda, seperti Jugendstill di Jerman, Vienna Seccesion di Austria, Stile Liberty di  lItalia, Modernista di Spanyol, dan Glassgow School di Inggris. Dinamakan Jugendstil pada setelah masa avant-garde, Jugend yang berarti muda. Młoda Polska (gaya ‘Polandia muda’ ) di Polandia, or skønvirke di Denmark, dan Sezessionsstil (‘Secessionism’) di Vienna, dimana mencari seniman atau desainer untuk mengadakan pameran untuk memamerkan hasil karya mereka. Art Nouveau juga disebut Style Moderne di Prancis dan lain-lain. Abad ke-20 merupakan masa bagi berbagai jenis seni rupa modern untuk berkembang, hal ini dikarenakan pesatnya perkembangan teknologi dan pengaruh-pengaruh budaya baru (juga didukung oleh industrialisasi, kolonialisme, urbanisasi, dll.).
Di Spanyol, gaya ini berpusat di Barcelona dan dikenalkan oleh asitektur modernisme, Antoni Gaudi yang adalah praktisi yang paling penting. Art Nouveau juga bergerak di Eropa Timur dan di pusat Eropa, dengan pengaruh dari Alfons Mucha di Prague dan Moravia (bagian dari Czech Republic) dan Latvian Romanticism (Riga, ibukota Latvia, dimana terletak sekitar 800 bangunan Art Nouveau).
Di Russia, gaya ini telah menyebar ke segala majalah seni magazine Mir iskusstva (‘World of Art’), dimana merupakan revolusi dari Ballets Russes. Di Italy, Stile Liberty adaah nama toko di London, Liberty & Co, yang mendistribusikan desain modern perubahan dari Arts and Crafts movement, keduanya adalah tanda dari aspek komersial Art Nouveau dan memberikan karakter Italy.
Gaya Art Nouveau terjadi pada tahun 1890 sampai 1905. Salah satu contoh lukisan Art nouveau dapat ditemukan di Roquetaillade castle (Perancis). Viollet-le-Duc mengembalikan kerajaan pada 1850, dan Ia berncana menciptakan Gothic revival, dan Ia membiarkan kerajaan seperti bentuk aslinya untuk menandai masa “pre” gaya Art Nouveau.
Evolusi tertinggi pada gaya Art Nouveau dapat dilihat pada Exposition Universelle tahun1900 di Paris, dengan gaya yang modern. Pada 1902, dilaksanakan Esposizione Internazionale d’Arte Decorativa Moderna, di Turin, Italy, dimana para desainer mengadakan pameran yang hampir dari seluruh Negara Eropa yang dimana gaya Art Nouveau berkembang. Art Nouveau menggunakan banyak inovasi teknologi pada akhir abad 19.
Karakter Art Nouveau
Dinamis,mengalir, dengan garis lekukan yang sangat mencerminkan karakter Art Nouveau. Karya Art Nouveau biasanya dicirikan dengan bentuk-bentuk plastis dan organis, tapi tetap mengandalkan prinsip-prinsip geometris. Seperti kebanyakan gaya pada umumnya, Art Nouveau memiliki bentuk yang harmonis. Ciri utamanya adalah garis-garis mengalir. Pola itu berdasarkan bentuk tumbuhan dan pengaruh lukisan Jepang. Art Nouveau Style merupakan gaya extravaganza dengan ornamen yang terinspirasi dari alam seperti flora yang penuh dengan sulur-sulur, kelopak bunga dan kecantikan wanita.
Di Indonesia art nouveau dikenal juga sebagai aliran semarangan cirinya adalah garis-garis menggelombang dengan bunga. Gaya ini juga terlihat pada sisa-sisa bangunan kolonial di Indonesia.
Media Art Nouveau
Dua dimensi benda-benda Art Nouveau yang dilukis, digambar, dan di cetak pada bentuk seperti iklan, poster, label, majalah, dan sejenisnya.
Di arsitektur ada beberapa nama yang identik
dengan Art Nouveau, misalnya kota Barcelona
dan Katedral La Sagrada Familia yang identik
dengan arsitek Antonio Gaudi dan C.R.
Mackintosh. Art Nouveau dapat diidentikan
dengan cita rasa seni bangunan yang eksentrik
dan mahal mengingat tingkat kesulitan detail
yang tinggi, belum lagi dengan penerapan bahan
yang mahal. Sentuhan Art Nouveau dapat didapat
dengan memajang lukisan Art Nouveau, seperti
reproduksi poster-poster karya Mucha Alphonse
(atau eksponen Art Nouveau lain: Klimt, Moreau,
Munch, Toulouse-Lautrec). Art Nouveau merupakan
salah satu aliran seni lukis periode itu, terutama di
Wina. Art Noveau terutama berkaitan dengan
rancangan barang-barang sehari-hari seperti
perhiasan, alat makan , barang pecah belah, dan
perabot rumah tangga
Tokoh-tokoh penting :



PERILAKU DALAM ARSITEKTUR PROSES DAN POLA PERILAKU MANUSIA

KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat ALLAH SWT, yang telah senantiasa melimpahkan Rahmat dan Hidayah- NYA sehingga kita semua dalam kea...